Thursday, January 25, 2007

Jangan Menyerah



Tragedi Nasi Goreng

Seorang cadel ingin membeli nasi goreng yang sering mangkal di dekat rumahnya.

Cadel: Bang, beli nasi goleng satu
Abang: Apa...? (ngledek)
Cadel: Nasi goleng!
Abang: Apaan ? (ngledek lagi)
Cadel: Nasi goleng!!!
Abang: Ohh nasi goleng...

Sambil ditertawakan oleh pembeli yang lain dan pulanglah si cadel dengan sangat kesal. Sesampainya di rumah dia bertekad untuk berlatih mengucapkan "nasi goreng" dengan benar. Hingga akhirnya dia mampu mengucapkan dengan baik dan benar.

Hari 2.....
Dengan perasaan bangga, si cadel ingin menunjukkan bahwa dia bisa mengucapkan pesanan dengan tidak cadel lagi.

Cadel: Bang, saya mau beli NASI GORENG, bungkus!!!
Abang: Ohh...pake apa?
Cadel: ...pake telol... (sambil sedih)

Akhirnya kembali dia berlatih mengucapkan kata "telor" sampai benar.

Hari 3......
Untuk menunjukkan bahwa dia mampu, dia rela 3 hari berturut-turut makan nasi goreng.

Cadel: Bang, beli NASI GORENG, pake TELOR!!! bungkus!
Abang: Ceplok atau dadar?
Cadel: Dadal... (dengan spontan)

Kembali dia berlatih dengan keras.

Hari 4.......
Dengan modal 4 hari berlatih lidah hari ini dia yakin mampu memesan dengan tanpa ditertawakan.

Cadel: Bang, beli NASI GORENG, pake TELOR, di DADAR!
Abang: Hebat kamu 'del, udah nggak cadel lagi nich, harganya Rp.2500 del

Si cadel menyerahkan uang Rp.3000 kepada si abang, namun si abang tidak memberikan kembaliannya, hingga si cadel bertanya

Cadel: Bang, kembaliannya?
Abang: Oh iya, uang kamu Rp.3000, harganya Rp.2500, kembalinya berapa del?(sambil senyum ngledek)

Si cadel gugup juga untuk menjawabnya, dia membayangkan besok bakal makan nasi goreng lagi. Tapi akhirnya dia menjawab "GOPEK...!!!". Sambil tersenyum penuh kemenangan.


the conclusion is :





INTI DALI CELITA INI ADALAH HIDUPLAH TELUS DGN PENUH PELJUANGAN !!
JANGAN MENYELAH YACH !!
MELDEKA !!

We hope its only Jokes

Once upon a time in the kingdom of Heaven, God was missing for six
days. Eventually, Michael the Archangel found him, resting
on the seventh day.
He inquired of God, "Where have you been ?"
God sighed a deep sigh of satisfaction and proudly pointed downwards
through the clouds,
"Look, Michael. Look what I've made." Archangel Michael looked
puzzled and said,
"What is it ?"
"It's a planet", replied God, "and I've put Life on it."
"I'm going to call it Earth and it's going to be a
great place of balance."
"Balance ?" inquired Michael, still confused.
God explained,pointing to different parts of earth.
"For example, northern Europe will be a place of great
opportunity and wealth, but cold and harsh while southern Europe
is going to be poor but sunny and pleasant. I have made some lands
abundant in water and other lands parched deserts. This one will be
extremely hot, while this one will be very cold and covered in ice."
The Archangel, impressed by God's work, then pointed to a group of
islands and said, "
What are those ?"
"Ah", said God. "That's the Indonesia, the most glorious place on
earth. There are beautiful beaches, rivers, mountains and forests.
The people from Indonesia are going to be handsome,
modest, intelligent and humorous and they are going to be found
traveling the world. They will be extremely sociable, hardworking and
high achieving, and they will be known throughout the world as
carriers of peace and love."
Michael gasped in wonder and admiration but then proclaimed,
"What about balance, God ? You said there would be balance."
God replied wisely,
"Wait until you see the idiots I put in the government......"

Untuk direnungkan



Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa jabatan hanya titipan Nya
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya? Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah ...semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah ...keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

(WS Rendra)


Lelucon

Udah pada tau kan iklan Pond's yang baru?
Pertama kali gue ngeliat sih emang romantis banget tuh iklan, tapi
setelah
dipikir2 secara logika, ternyata bukan masalah romantis.

Si cowok ketika ditinggal ama ceweknya ngeliat bungkus Pond's di tas
ceweknya itu. Trus dia mikir "gila, jarang2 cewek cantik gitu biaya
perawatannya murah. Untung cuman pake Pond's, belum pake Clinique,
ROC,
atau Lancome. Gue gak mau kehilangan dia".
Jadi balik lagilah si cowok itu.

Si cewek ketika si cowok balik mengejar dia, baru menyadari bahwa mobil
si
cowok itu Audi. "Jarang2 cowok punya Audi mau ama gue. Ya udah deh,
gue
maafin aja".

So guys, it's a materialistic world out there :-)

Jadilah Pemimpin


TUJUH HAL TENTANG PEMIMPIN


Ada tujuh karakter penting yang membuat seorang pemimpin dianut oleh karyawan atau bawahannya. Tujuh karakter penting itu saling terkait antara satu dengan yang lain. Sehingga ketujuh karakter ini tidak bisa dipisahkan. Apa saja tujuh hal itu?

Mitra bisnis, dalam business wisdom kesempatan ini saya ingin menelaah tentang kepemimpinan atau leadership. Apa sih yang membuat anak buah, karyawan, atau bawahan itu mau mendengarkan gaya kepemimpinan Anda.

Ada tujuh hal penting yang membuat seseorang itu mau dipimpin atau menurut kepada Anda.

Pertama, bila anda sebagai pemimpin memperlakukan mereka dengan rasa hormat. Tidak semua orang memang gila hormat, tetapi siapapun orangnya juga tidak mau untuk dihina. Kalau kita bisa memperlakukan karyawan atau bawahan kita dengan rasa hormat, maka mereka akan menghargai itu.

Kedua, seorang pemimpin harus bisa memberikan inspirasi kepada bawahannya. Pemimpin harus mampu memberikan inspirasi, visi, dan misi ke mana sebenarnya arah perjalanan kita. Kalau mau maju, apa pula yang diinginkan.

Ketiga, karyawan atau bawahan akan menurut bila Anda dapat mengajarkan sesuatu, memberikan sebuah ilmu atau kemampuan. Sehingga semuanya dapat belajar dan tumbuh menjadi karyawan yang lebih baik.

Keempat, pemimpin harus dapat mentoleransi sebuah kesalahan yang tentu saja bukan kesalahan yang sama dan telah dibuat berulang-ulang. Tetapi sebuah kesalahan yang terjadi sekali saja.

Kelima, pemimpin harus mau berkomunikasi dengan jujur dan terbuka. Karena kalau kita tidak mampu mengomunikasikan diri kita dengan bawahan, maka akan terjadi ketidakpastian dan salah paham di antara mereka.

Keenam, anak buah harus percaya terhadap apa yang dijalankan oleh pimpinannya. Kalau anak buah tidak percaya dan merasa bahwa pemimpinnya menipu, mau menangnya sendiri, mau enaknya saja, tetapi tidak mau bekerja dengan benar dan jujur, maka bawahannya tidak akan menurut.

Ketujuh, pimpinan harus mau melakukan apa yang telah diajarkan. Jadi kalau dia bilang harus hidup dengan baik, maka dia harus mempunyai cermin dari hidup yang baik itu. Kalau tidak, mereka akan menganggap Anda hanya berbicara tanpa memberikan contoh yang benar. Pemimpin yang baik harus mempunyai ketujuh karakter tersebut.

QUO VADIS ITB, UI, UGM, IPB?Untuk Melati


PENGANTAR

Membaca tulisan pak Kwik Kian Gie (KKG) di Jawa Pos edisi Selasa, 16 Agt 2005 dengan judul "Pakai Tangan Mafia Berkeley" yang kemudian diperdalam lagi di Blog
site di http://diskusikebudayaan3.blogspot.com/
(bagaimana dan mengapa krisis kebudayaan sedang terjadi di Indonesia); dan
http://analisakebudayaan.blogspot.com/ (apa & bagaimana maha kerusakan telah terjadi di Indonesia akibat ulah generasi tua),
sungguh membuat rasa malu yang sangat dalam bagi saya sebagai alumni UI.
Keterlibatan para dosen UI sebagai Mafia Berkeley yang bersekutu dengan USA dan regim Soeharto dengan menusuk Bung Karno dari belakang (C'oup detat yang merangkak)
menjadikan Indonesia hingga kini terjebak dalam berbagai krisis.
Walau saat ini Indonesia masih dalam krisis, para oknum akademisi UI itu terus lupa diri dengan melakukan pelacuran intelektual menjual bangsanya sebagai abdi luar negeri dan terus setia kepada regim ORBA dan bablasannya.
Saya menghimbau segenap alumni UI untuk membaca tulisan pak KKG dan tulisan yang lebih diperdalam lagi di web site diatas untuk kemudian melakukan refleksi
dan kritik kepada almamater. Mari kita berkabung atas moralitas akademisi UI! Pengantar ini dikutip sepenuhnya dari artikel di forum opini www.plasa.com.

QUO VADIS ITB, UI, UGM, IPB?

Kiranya tidak hanya UI, memang pilu, kelu, dan sendu
memikirkan peran perguruan tinggi top (UI, ITB, UGM,
IPB, ?) di Indonesia. Negara adidaya yang jauh lebih
cerdas dari kita memahami kelemahan budaya kita (Jawa,
yang mayoritas) dengan lebih baik, terutama budaya
balas jasa: diberi sedikit, membalas memberi banyak!
Contoh berbagai budaya balas jasa:
- Para dosennya diberi bea siswa oleh USA, sebagai
balas jasa: sepertiga kekayaan negara ini diberikan
kepada USA dkk.! Dari gas alam di Aceh s/d Free Port
di Irian; dari Sabang hingga Merauke ? USA dkk.lah
Yang paling menikmati kekayaan Indonesia! Keterlibatan
para dosen UI sebagai Mafia Berkeley yang bersekutu
dengan USA dan regim Soeharto dengan menusuk Bung
Karno dari belakang (C'oup detat yang merangkak)
menjadikan Indonesia hingga kini terjebak dalam
berbagai krisis.
- Para dosennya diberi bea siswa oleh Jepang, sebagai
balas jasa: industri negara ini diberikan kepada
Jepang! Hampir tiga puluh tahun industri Jepang
bercokol di Indonesia, namun s/d saat ini kita
dibiarkan hanya sebagai bangsa tingkat perakit dan
konsumen saja!
- Para dosennya diberi bea siswa oleh Jerman, sebagai
balas jasa: di jaman Habibie, kapal2 rongsokan Jerman
yang semestinya dijual sebagai besi kiloan, namun
dibeli kita dengan harga setinggi langit! Majalah
Tempo yang menginvestigasi masalah ini lalu dibredel!
Ketika itu Indonesia membutuhkan SDM yang baik, namun
anggaran pendidikan dihabiskan untuk hobi Habibie ?
pesawat terbang! Teknologi Jerman merajalela,
pendidikan merana; dan sekarang IPTN sekedar menjadi
musium sebuah konspirasi! Dan Habibie sekarang dengan
nikmatnya meninggalkan Indonesia yang sengsara, untuk
kembali sebagai warga negara Jerman yang terhormat dan
berjasa bagi negerinya (Jerman)!
- Diberi berbagai jabatan tertinggi di pemerintahan
(dan jabatan rangkap sebagai dosen) oleh politisi
Jakarta: dari eselon dua, eselon satu, dan menteri.
Level jabatan setinggi ini sudah bersifat politis.
Sebagai balas jasa "dibeli" oleh politisi di
pusat/Jakarta: PTN top ini menjadi tidak kritis sama
sekali, dosennya hanya sebagai alat justifikasi
kebijakan politisi busuk, dan bahkan telah membelokan
arah reformasi, serta mereka ini dipakai untuk
mengendalikan/menundukan para mahasiswa agar PTN top
tsb. tidak menjadi oposisi terhadap pemerintah yang
sedang berkuasa. Ingat, bila mahasiswa di salah satu
dari keempat PTN ini bergolak, maka pada umumnya akan
terjadi bola salju, dimana akan memicu aksi gerakan
diseluruh Indonesia. Sayang sekali, para dosen yang
juga merangkap sebagi pelacur intelektual dan
akademisi selebritis (sengaja sering ditampilkan di TV
oleh politisi Jakarta) ini telah dipakai untuk meredam
bahkan menindas gerakan moralis dan idealis para
mahasiswanya!
- Dan yang paling memprihatinkan kita, para dosennya
diberi bea siswa oleh negara adidaya, sekarang mereka
ini bayak yang menjadi professor doktor, sebagai balas
jasa: nilai tukar rupiah dibiarkan terhina dan
terjajah seperti saat ini, 1 dollar senilai kurang
lebih sepuluh ribu rupiah! Dengan nilai tukar semacam
ini, negara adidaya dapat membeli hasil sumberdaya
alam kita dengan amat sangat murah sekali, kemudian
mengembalikannya sebagai barang setengah jadi atau
jadi (hitech) dengan harga dollar setinggi langit
(dalam rupiah); hasil keuntungannya mereka belikan
lagi bahan2 mentah kita sehingga untung mereka
berlipat-lipat, maka merekalah sesungguhnya penikmat
kekayaan alam Indonesia, bukan rakyat Indonesia
(lihatlah suku Dayak yang tetap mencari kayu bakar
dihutan, lihatlah suku Irian/Papua yang tetap
berkoteka)! Dan kita dibiarkan menjadi negara
eksportir bahan mentah sekaligus konsumen produk
negara maju, bukan negara Industri. Bukankah ini
strategi penjajahan ekonomi yang terselubung namun
> indah sekali? Para Prof. Dr. ini seolah-olah tidak
> mampu lagi atau tidak mau berusaha lagi (atau
> terburuk: justru jadi agen/konspirator negara adidaya)
untuk mengembalikan kehormatan bangsa ini melalui
nilai tukar mata uang yang adil dan beradab!

PRESTASI YANG MENGHERANKAN

Berikut ini contoh prestasi yang membuat bangsa
tercengang, malu, dan prihatin:

- Menteri Pendidikan dan eselon satu duanya DEPDIKBUD
adalah para Prof. Doktor dari PTN top, misal: Dirjen
Dikti: Sumantri ? ITB, Dirjen DiKdasmen: Indrajati ?
ITB, Rektor Universitas Terbuka: Bambang Sutjiatmo ?
ITB; mereka sudah dua kali masa jabatan (Mega & SBY),
dan sekarang menterinya: B. Sudibyo ? UGM. Namun
ternyata kualitas SDM kita tetap amburadul (justru
merosot), budaya KKN nya termasuk tiga besar, dan
sekolah makin mahal dan ijazah palsu (MM, MBA, DR)
menjamur! Dan jangan lupa Pak SBY pun ternyata butuh
gelar DR dari IPB untuk jadi Presiden, bukankah ini
kontradiksi moralitas?
- Menteri Keuangan, Menteri Ekonomi dan Kepala BI
adalah para Prof. Doktor dari dari UI dan UGM (saat
regim Soeharto). Yang curi uang 700 trilyun rupiah
(BLBI) ternyata cukup lulusan Sekolah Dasar, misal:
Liem Swie Liong, Nursalim, Edy Tanzil, Soeharto, Probo
Sutejo, dst. Masak, Profesor kok kalah sama lulusan
SD?
- Regim ORBA mendirikan BPPN: Badan Penyelamat Para
penilep uang Negara. Kalkulasi para ekonom ahli:
mungkin yang kembali cuman 25% saja dari 700 trilyun
dana BLBI yang ditilep itu! Jadi, yang diselamatkan
bukan uang rakyat, tapi justru pencurinya, sungguh
genius/licik! Para konglomerat hitam ini dibantu oleh
para akademisi busuk (kebanyakan dari UI dan UGM)
dalam memberikan justifikasi2 "penyelamatan", berapa
ratus milyar rupiah telah dikucurkan oleh konglomerat
hitam ke dana Lembaga Pengabdian Masyarakat UI dan UGM
demi kesalamatan mereka!
- Berbagai kasus berat yang dialami bangsa seperti:
penggelapan sejarah 1965, bisnis militer, badan
intelijen, KKN, rasdiskriminasi, pelanggaran HAM
berat, sistim gaji PNS yang amburadul, BBM, BUMN,
dst., tak pernah mereka jadikan pokok2 permasalahan
bangsa yang harus selalu menjadi topik utama di
kampus-kampus dan ditingkat forum nasional! Para
penguasa PTN top ini, secara tidak sadar, telah
dijebloskan ke peran aktip politik praktis, sehingga
saat ini oleh dikata telah terjadi multi fungsi: ya
dosen, ya politisi, ya selebitis, ya bisnis. Peran
aktip sebagai alat politik pejabat pusat telah
mengakibatkan mandulnya PTN top tersebut!
- Di Indonesia itu lucu sekali, preman-kecu-gali
diorganisir secara rapi menjadi organisasi Pemuda
Pancasila, bahkan sampai punya partai politik,
organisasinya rapi dari pusat Jakarta s/d pelosok desa
di Manokwari Irian, sehingga kalau dibutuhkan proyek
adu domba & kerusuhan didaerah dengan dalang dari
Jakarta tinggal di out sourcingkan ke Pemuda
Pancasila. Sebaliknya, dosen yang pandai dan dianggap
bijak dan bermoral baik justru tidak punya asosiasi.
Suatu serikat pekerja itu pasti dibutuhkan dan pasti
berguna sekali! Seandainya ada Asosiasi Dosen
Indonesia, betapa kekuatan yang maha luar biasa
dahsyatnya untuk membenahi carut-marutnya Indonesia!
(sejauh tidak afiliasi ke parpol, alias netral).
Aneh sekali, mereka
tidak sadar akan potensi dahsyat tapi dibiarkan tidur
lelap ini?
- Di Indonesia itu lucu sekali, dari data statistik
ditemukan bahwa lulusan terbaik SMA/SMU memilih
memasuki Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik.
Namun sayang, setelah jadi dokter dan insinyur mereka
malas masuk ke Partai Politik, sehingga yang masuk
Parpol justru para preman-kecu-gali yang dulu
rangkingnya akademisnya terbawah (saat SMU/SMA), dan
itupun sering kali memakai ijazah palsu! Jadi, di
Indonesia telah terjadi paradoks: para
preman-kecu-gali lah yang justru menjadi politisi top
dan mengatur/memimpin negara serta membawahi orang
pandai-bijak-cerdas. Demi melanggengkan posisi ini,
maka yang pandai dan bijak (dosen) justru digaji
rendah sekali agar bisa dibeli untuk dijadikan alat
pikir dan justifikasi saja (staff think tank) bagi
para preman-kecu-gali yang telah jadi birokrat.
Dengan paradoks semacam ini, tidak heran Indonesia
menjadi negara amburadul. Sukarno adalah insinyur,
Mahatir adalah dokter, STOVIA (awal gerakan
kemerdekaan pertama) adalah mhs. kedokteran; mereka
adalah pandai-cerdas-bijak, jadi patut memimpin
negara; bukan malahan preman-kecu-gali yang memimpin
negara! (paradoks ini sudah menjadi olok2 umum para
cendekiawan di luar negeri).

PRODUSEN KORUPTOR TERBESAR

Seperti diketahui, UI, ITB, IPB, dan UGM adalah
institusi perguruan tinggi negeri (PTN) tertua,
terbesar dan termaju di Indonesia. Jadi, mereka adalah
pencetak para PNS (peg. Negeri sipil) terbesar di
Indonesia, dan alumni mereka saat ini menduduki
jabatan tertinggi di pemerintahan, dari pegawai
menengah (IIIA), eselon dua, eselon satu, dan menteri,
jadi boleh dikata mereka "menguasai" Indonesia! Sayang
sekali, kita dan dunia telah memahami bahwa:
- Indonesia terkenal sebagai negara terkorup didunia.
- Birokrasi Indonesia adalah birokrasi keranjang
sampah.
- Telah terjadi korupsi berjamaah; ini ibarat
mengatakan bahwa korps PNS/BUMN itu adalah jemaah
koruptor.
- Sistim kepegawaian kita adalah buruk sekali: dari
segi gaji (yang seperti hutan belantara) dan dari segi
karier planing yang amburadul.
Hal ini menjadikan salah satu penyebab suburnya KKN!

Atas dasar berbagai alasan diatas, maka dapatlah
dikatakan bahwa ITB, UI, UGM, IPB ADALAH PRODUSEN
KORUPTOR TERBESAR DIDUNIA dan PRODUSEN TERBESAR
BIROKRAT KERANJANG SAMPAH! Reuni alumni mereka, yang
pada umumnya megah-meriah, adalah bagaikan reuni
jemaah koruptor, para pelaku KKN, para perusak bangsa!

PENUTUP

Penulis berharap agar tulisan ini jatuh ketangan para
mahasiswa aktivis di ITB, UI, UGM dan IPB, dengan
maksud agar mereka menyadari/memahami bahwa banyak
dosen mereka dan alumni mereka ternyata telah menjadi
oknum kelas berat (level nasional atau bahkan
internasional = agen negara asing). Selain itu, PTN
mereka yang kaya SDM berkualitas ternyata justru telah
menjadi sumber petaka bagi Indonesia!

Bung Karno (BK) yang mempunyai visi jauh kedepan sudah
menetapkan bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri
(berdikari), dan tidak mau tergantung pada utang luar
negeri ("Go to hell with your aids!").
Negara-negara sahabat Bung Karno, sperti RRC dan
India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan
tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto
Cs., saat ini menjadi bangsa yang sehat, normal, tidak
berutang, bahkan adidaya! Sayang sekali, Soeharto dkk.
melakukan
konspirasi dengan USA (via CIA+mafia UI) menusuk
bangsanya sendiri.
Ditahun 1965, Indonesia dijadikan lapangan pertempuran
antara USA dkk vs. Rusia dkk., yang menang USA
(kapitalis); sebaliknya di Vietnam, yang menang Rusia
(komunis). Mulai tahun 1998 s/d sekarang, Indonesia
kembali dijadikan lapangan pertempuran antara Barat
(modern, sekuler, Kristen) melawan Timur Tengah
(tradisional/kolot, non sekuler, Islam), kata Samuel
Hutington ? ini disebut clash of civilization; tidak
heran bom dan kerusuhan berbasis SARA terus menerus
meledak disana sini.
Indonesia yang kaya sumber alam, strategis posisi
geopolitiknya, dan pasar yang besar bagi industri
asing (karena jumlah penduduk > 200 juta) memang
menarik untuk diperebutkan, pumpung bangsanya masih
bodoh! Kebodohan bangsa Indonesia diwakili oleh
prestasi PTN2 topnya yang mlempem, bodoh, dan tidak
sadar kalau bangsanya sekedar dijadikan kuli atau
negara boneka oleh negara asing! Sayang seribu kali
sayang, ITB, UI, UGM, IPB belum mampu menjadi tumpuan
untuk membangun bangsa yang berkebudayaan tinggi dan
mandiri! Bayangkan, budaya antri saja, kita tidak
mampu!

Empat faktor utama penyebab Indonesia tidak pernah
mandiri dan terusmenerus mengalami krisis, yaitu
terpaan: badai gurun Sahara yang panas-membara dari
negara Timur Tengah yang ingin memporak-porandakan
budaya asli dan menguras devisa negara, badai salju
yang dingin-membekukan dari negara barat/modern yang
ingin menjajah ekonomi/teknologi dan mengeksploitasi
kekayaan alam Indonesia, badai KKN yang merampok
keuangan dan membangkrutkan bangsa, dan PTN yang
justru terkesan membiarkan semua badai itu terjadi!
Dengan demikian, semenjak 1965 s/d detik ini (2005),
bangsa Indonesia boleh dikata belum merdeka
sepenuhnya!

Kita prihatin, ternyata PTN top kita, yang menjadi
barometer SDM berbobot, tidak mampu membuat negara ini
menjadi adil, sejahtera, aman, dan sentosa.
Sebaliknya, peranan dosen dan alumni mereka, yang
menguasai birokrasi negara, telah membuat masyarakat
indonesia
mengalami berbagai krisis dan bahkan kesengsaraan.
ITB, UI, UGM, IPB belum bisa menjadi berkah dan rahmat
bagi bangsa Indonesia, mereka saat ini malah boleh
diibaratkan menjadi sumber kemunduran bangsa
Indonesia (atau justru menjadi laknat bangsa: agen
asing seperti UI)! Sayang, sungguh sayang?mari kita
semua menundukan kepala & prihatin.
Bagaimana pendapat anda?

NASEHAT BILL GATES


Great Advice from the multi-billionaire, Bill Gates.

Bill Gates recently gave a speech at a High School about 11 things they
did not and will not learn in school. He talks about how
feel-good, politically correct teachings created a generation of kids with
no concept of reality and how this concept set them up for failure in the
real world.

Love him or hate him, he sure hits the nail on the head with this! To
anyone with kids of any age, here's some advice from Gates:

Rule 1: Life is not fair - get used to it!

Rule 2: The world won't care about your self-esteem.
The world will expect you to accomplish something
BEFORE you feel good about yourself.

Rule 3: You will NOT make $60,000 a year right out of high
school. You won't be a vice-president with a car phone
until you earn both.

Rule 4: If you think your teacher is tough, wait till you get a boss.

Rule 5: Flipping burgers is not beneath your dignity.
Your Grandparents had a different word for burger flipping:
they called it opportunity.

Rule 6: If you mess up, it's not your parents' fault, so don't whine
about your mistakes, learn from them.

Rule 7: Before you were born, your parents weren't as boring as
they are now. They got that way from paying your bills,
cleaning your clothes and listening to you talk about how
cool you thought you were. So before you save the rain
forest from the parasites of your parents' generation, try
de-lousing the closet in your own room.

Rule 8: Your school may have done away with winners and losers
but life HAS NOT. In some schools they have abolished
failing grades and they'll give you as MANY TIMES as you
want to get the right answer. This doesn't bear the
slightest resemblance to ANYTHING in real life.

Rule 9: Life is not divided into semesters. You don't get
summers off and very few employers are interested in
helping you FIND YOURSELF. Do that on your own time.

Rule 10: Television is NOT real life. In real life people actually
have to leave the coffee shop and go to jobs.

Rule 11: Be nice to nerds. Chances are you'll end up working for
one.